Tentang Efek Rumah Kaca dan #TIBATIBAKONSERMLG

Bicara tentang musik independent di Indonesia, bicara pula tentang unit alternative asal Jakarta, Efek Rumah Kaca.

Karena kesibukkan urusannya di Amerika, vokal utama ERK Cholil Mahmud seakan mempunyai daya magis. Kehadirannya kini di setiap penampilan panggung menjadi sesuatu yang cukup “mahal”. Belum lagi Cholil terhitung jarang pulang kampung sejak kepergiannya ke negeri paman sam tersebut.

Bekerjasama dengan RURUradio, ERK pun menggelar project-an pertunjukkan musik yang menurut saya idenya benar-benar out of the box dan brilliant. Berbekal melihat antusiasme kawula muda dan penggemar setia Efek Rumah Kaca yang rindu akan format lengkap mereka saat penampilan panggungnya, mereka menggelar konser setiap kali Cholil pulang ke Indonesia.

Dengan konsep #TIBATIBAKONSER atau #TIBATIBASUDDENLYKONSER yang mana pemberitahuannya benar-benar tidak terduga dan membuat  penggemarnya full of surprise. RURUradio dan ERK berani (dan mampu) menggelar konser yang hasilnya di luar dugaan.

Salah satu dari beberapa kota yang dipilih untuk menjadi tour #TIBATIBAKONSER adalah Kota Malang. Digelar pada Minggu 27 September 2017, announcement serta penjualan tiketnya dimulai 3 hari sebelum hari besar itu. Tiket seharga  35ribu sampai 45ribu untuk pre-sale (ada promo di setiap harinya tergantung tingkat keberuntungan anda), dan 50ribu untuk on the spot (tentunya dengan jumlah yang terbatas) dirasa masuk akal sejalan dengan kerinduan mereka dengan format lengkap ERK.

Konser #TIBATIBAKONSERMLG
Dibuka dengan jokes humor ala Adjisdoaibu, konser #TIBATIBAKONSERMLG pun dimulai. Lagu pertama yang dibawakan adalah Merah dari album paling anyar mereka yaitu Sinestesia. Oh ya sekedar informasi, karena konsep konser ini adalah intimate show jadi konsernya pun dibagi menjadi dua sesi (mungkin karena cukup menguras tenaga). Sesi pertama ERK membawakan full lagu-lagu dari album Sinestesia, dan sesi ke-dua membawakan lagu-lagu dari album Efek Rumah Kaca dan Kamar Gelap. Uniknya, di sesi ke-dua mereka memainkan setengah lagu dengan berkolaborasi dengan musisi-musisi lokal asal Malang sehingga menambah warna baru dalam setiap lagu yang mereka bawakan.
(Adjisdoaibu menyapa pemirsa di tribun)

(Merah, menjadi lagu pembuka)

Seakan ingin semua penggemarnya beryanyi bersama, disediakan pula proyektor yang berisi lirik lagu yang ERK bawakan (ala-ala karaoke gitu). Kejadian unik, disela-sela pertunjukkan berlangsung,  ada penonton yang mengibarkan bendera Arema Malang. Memang Malang dan Arema merupakan hal yang tak bisa dipisahkan dari hati warganya, apalagi sebelum konser dimulai, Arema baru saja bermain dan menang dalam pertandingan tersebut. Setelah satu jam beryanyi, lagu Kuning menjadi penutup dalam sesi pertama dan break selama beberapa saat sebelum naik ke sesi ke-dua.

Kolaborasi pertama di sesi ke-dua dibuka dengan shoegazer lokal Malang, Intenna, membawakan lagu Tubuhmu Membiru... Tragis. Setelah itu dilanjutkan Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa oleh ERK sendiri. Pada sesi ke-dua, selalu dengan format, satu lagu oleh ERK dan lagu selanjutnya kolaborasi dengan musisi-musisi Malang. Jadi, penonton pun dibuat penasaran siapa kolaborator selanjutnya yang naik ke panggung, karena sebelumnya belum diberitahukan dan benar-benar tiba-tiba.
(Dyan --vocal utama Intenna-- dan Cholil)

Total ada sekitar 9 musisi yang berkolaborasi dengan ERK malam itu, yakni: Intenna, Nico & Cindy, Ajer, APA Rapper, Steffani BPM, Tani Maju, Pagi Tadi, Wake Up Iris, dan Youngster City Rocker. Yang masing-masing membawakan satu lagu.
Venue acara serta penataan panggung sangat apik, konsep yang sepertinya ingin diusung teman-teman dari Malang Subpop, RURUradio, dan ERK adalah hutan, alam, atau semacamnya. Di panggung terdapat rumput-rumput kering yang sengaja di hamburkan secara natural, ada juga kursi serta meja kayu yang disiapkan sebagai properti guna menambah kesan alam. Juga tepat diatas panggung, berdiri kokoh pohon beringin yang usianya mungkin sudah cukup tua, mengingat ranting-ranting panjangnya tumbuh subur ke bawah.

Penonton menikmati pertunjukkan, dengan tempat duduk yang bertingkat, dari barisan depan hingga belakang pun tak perlu susah-susah melihat ke depan panggung. Namun, saat lagu Cinta Melulu yang berkolaborasi dengan Tani Maju, penonton pun gerah dan bosan, akhirnya mereka semua berdiri, merangsek kedepan, dan sedikit berjoget bersama karena memang Tani Maju merupakan grup musik Orkes yang lumayan membuat pinggul otomatis bergoyang.
(Bergoyang bersama Cinta Melulu)

Ada juga kolaborasi epic dengan APA Rapper yang notabene adalah duo rapper asal Malang. Dengan lagu Jalang, mereka berhasil menyisipikan lirik-lirik dan gaya-gaya khas rap kedalam lagu. Atraktif namun tidak norak. (link cuplikan video: https://www.youtube.com/watch?v=75luW_c6zfI)
Kolaborasi terakhir ditutup dengan lagu paling baru ERK yang belum ada di album manapun,  Merdeka, bersama Youngster City Rocker.

Sangat puas, kata yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang dirasakan malam itu. Kurang lebih selama tiga jam (±25 lagu) Efek Rumah Kaca memimpin jalannya “ibadah” bernyanyi secara berjamaah. Lagu Desember yang dibawakan bersama seluruh kolabolator menjadi penutup perhelatan #TIBATIBAKONSERMLG. Crowd hanyut malam hari itu di Brawijaya Edupark. Dengan beryanyi bersama di lagu terakhir, lampu flash ponsel pun dinyalakan demi menambah khidmat acara.
Tak peduli esok Senin, tak peduli esok masuk kerja, tak peduli esok mulai masuk kuliah semester baru. Hanya bernyanyi, bersama, sampai nanti, sampai hujan memulihkan, duka, luka.







Comments

Popular posts from this blog

Prologue

Who The Fu** Is Grrrl Gang?